Polresta Denpasar Lakukan Restorative Justice Terhadap Kasus Dugaan Penganiayaan

Jumat, 29 April 2022 18:21 WIB

Share
Polresta Denpasar Lakukan Restorative Justice Terhadap Kasus Dugaan Penganiayaan
Gelar perkara kasus Penganiayaan (FOTO/SA)

DENPASAR, Bali.poskota.co.id -

Satuan Reskrim Polresta Denpasar menghentikan Penyelidikan secara Restorative Justice terhadap dugaan Tindak Pidana Penganiayaan dan mencabut anak dari kuasa yang Sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 ayat 1 KUHP dan Pasal 330 KUHP. 

Kasus ini sendiri dilaporkan oleh korban bernama Yunita Oktaria (30) dan sebagai terlapor Adib Antoni (34) suami siri korban, peristiwa ini terjadi pada Jumat 22 April 2022 pukul 21.00 wita di kos korban jalan Pulau Bali nomor 23 Denpasar, dari pengakuan korban bahwa dirinya dianiaya oleh pelaku dengan cara memukul kepala, Mata, bibir dan tangan korban diinjak serta membawa anak korban berinisial B (8 bulan) pergi yang merupakan anak biologis terlapor.

Akibat perlakukan terlapor kepada korban hingga korban mengalami pusing, penglihatan sebelah kanan terganggu, memar pada kelopak mata kanan, bibir luka berdarah dan badannya sakit.

Sedangkan dari keterangan terlapor Adib Antoni (34) menggatakan bahwa antara korban dengan terlapor ada pertengkaran saat kejadian dimana terlapor emosi karena korban tidak mau menyusui anaknya berinisial B dan hal tersebut membuat pelapor dan korban bertengkar serta korban mengamuk.

Antara korban dan terlapor menikah secara agama islam tetapi hanya nikah sirih saja dan dari perkawinan sirih tersebut terlapor memiliki satu orang anak perempuan, saat itu terlapor membawa anaknya  di  jl. petilasan IV Sanur Densel karena melihat korban yang terus mengamuk.

Kasat Reskrim Kompol Mikael Hutabarat berinisiatif melakukan Restorative Justice terkait kasus tersebut dengan sebelumnya mengadakan gelar perkara yang juga dihadiri Kanit PPA, pihak UPTD PPA Kota Denpasar, G.A.A.Y.Marhaeningsih selaku konselor dan Amadeandra Kusuma selaku Psikolog dari UPTD PPA kota Denpasar dan Kedua belah pihak sepakat berdamai setelah melalui proses yang cukup panjang pada kamis (28/4/22).

Menurut Kasat Reskrim, sebelumnya Penyidik unit PPA telah mempertemukan kedua belah pihak dan mengambil jalan damai. Keduanya pun sepakat untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. Sebagai bentuk kesepakatan keduanya membuat surat kesepakatan perdamaian 25 April 2022 lalu.

“Ini pertama kali kami lakukan menghentikan penyelidikan secara Restorative Justice, disini kedua belah pihak sudah saling sepakat saling berdamai dan permasalahan diselesaikan kekeluargaan,” Ucap Kasat Reskrim dalam keterangan persnya yang diterima awak media Poskota.com Jumat (29/4/2022).

Kompol Mikael Hutabarat menambahkan, bahwa kedua belah pihak telah membuat surat pencabutan laporan laporan polisi juga pada 25 April 2022. Pihak korban tidak menuntut secara hukum sesuai surat pernyataan terlampir serta telah dituangkan dalam berita acara pemeriksaan tambahan.

Halaman
1 2
Reporter: Admin Bali
Editor: Admin Bali
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar
Berita Terpopuler