Setelah MoU dengan PT KAO, Kemenparekraf akan Ajak Stakeholders Lain

Minggu, 26 Juni 2022 10:42 WIB

Share
Setelah MoU dengan PT KAO, Kemenparekraf akan Ajak Stakeholders Lain
Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu saat acara penganugerahan penghargaan Merdeka Awards 2022 di Jakarta belum lama ini. (FOTO/Ist)

DENPASAR, Bali.poskota.co.id -

Selepas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  (Kemenparekraf/Baparekraf) berkolaborasi dengan PT KAO Indonesia untuk mengembangkan desa wisata dan homestay yang ada di Tanah Air, Kemenparekraf akan terus mengajak seluruh stek holders pariwisata lainnya seperti perbankan, BUMN dan swasta nasional, untuk bersama-sama mengembangkan Desa Wisata. Seperti Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BCA, Astra, Adira dan lain-lain.

Demikian ditegaskan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf, Vinsensius Jemadu saat ditemui di Badung – Bali, pada Jumat 24 Juni 2022.

Vinsen mengatakan, Kemenparekraf RI sangat mengharapkan bahwa dengan gerak bersama ini, semakin banyak Desa-desa di Indonesia menjadi desa wisata sebagai kunci pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

‘Kita saat ini masih focus di destinasi utama superprioritas seperti Bali, Labuan Bajo, Danau Toba, Borobudur dan destinasi lain,’ ujarnya.

Dikatakan, kerja sama dengan PT KAO dan penggalangan kerjasama dengan Lembaga-lembaga lainnya ke depan, arahnya sudah jelas yakni bagaimana Kemenparekraf RI berusaha semaksimal mungkin menciptakan lapangan kerja dan kesempatan kerja seluas-luasnya.

‘Karena begitu kita bangun Desa Wisata, sub sektor pariwisata dan ekonomi kreatif seperti kuliner, souvenir, fashion dan sub sektor lainnya seperti UMKM akan bangkit. Karena mereka membutuhkan tenaga kerja, tercipta kesempatan kerja. Dengan demikian kita bisa mengangkat kesejahteraan desa-desa tersebut,’ ujar Vinsen.

‘Dan dari situlah kata dia, baru nanti pemulihan ekonomi secara nasional itu terasa. Kita mulai dari desa,’ tegasnya.

Saat ini dari hampir 80 ribu Desa di Indonesia, ada 7.500 yang masuk Desa wisata. Dan dalam dua tahun ini Kemenparekraf sudah berhasil menghimpun 3.500 Desa, jadi sudah hampir 50 persen, yang dihimpun melalui jejaring desa wisata, Jadesta (Jejaring Desa Wisata).

Jadesta adalah sejenis aplikasi yaitu platform untuk profiling desa wisata, Identifikasi kebutuhannya dan lain-lain. Manfaat Jadesta ini besar sekali, karena begitu desa-desa tersebut masuk Jadesta, pihak Kemenparekraf RI dapat melakukan profiling desa-desa tersebut.

Halaman
Reporter: Admin Bali
Editor: Admin Bali
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar