Turis di Bali Sering Berkelahi, Naik Motorpun Ugal-ugalan, Gejala Apa?

Minggu, 18 September 2022 16:20 WIB

Share
Turis di Bali Sering Berkelahi, Naik Motorpun Ugal-ugalan, Gejala Apa?
Dua wisatawan asing berkelahi di sebuah obyek wisata. (FOTO/Ist)

DENPASAR,Bali.poskota.co.id -

Akhir-akhir ini sering sekali terjadi perkelahian turis lawan turis. Peristiwa seperti itu umumnya terjadi pada para wisatawan manca Negara yang mngendarai sepeda motor. Di beberapa obyek wisata seperti di Canggu Badung, dan di Jimbaran Badung sempat beberapa kali wisatawan asing berkelahi dengan sesame wisatawan asing juga.

Sementara pengamatan media ini di obyek wisata Canggu, para wisatawan yang mengendarai sepeda motor cenderung ugal-ugalan. Ada yang mengendarai sepeda motor tidak memakai helm, bertelanjang dada dan mereka nyaris tidak menaati aturan lalu lintas.

Beberapa warga yang dijumpai media ini di Canggu Badung, mengeluhkan kelakuan para wisatawan yang tidak menaati aturan lalu lintas sehingga sering terjadi kecelakaan dan tabrakan Antara pengendara sepeda motor.

‘Mereka sangat tidak tertib. Membelok sesuka hati tanpa melihat-lihat kondisi lalu lintas sekitarnya. Mereka juga tidak pakai helm. Dan terakhir ada tuh turis boncengan sepeda motor tidak pakai baju,’ ujar Wayan Suyasa salah seorang penduduk Canggu yang ditemui Sabtu 17 September 2022.

Terkat fenomena tersebut, praktisi pariwisata, Wayan Puspa Negara berpendapat bahwa munculnya ulah turis seperti itu mencerminkan fenomena Destinasi yang tidak teratur.

‘Ini adalah fenomena yang sudah sering terjadi sejak tahun 1990-an hingga kini,  Hanya saja sejak adanya medsos terlihat lebih sering, tampak muncul  dan tersebar luas,’ ujar Puspa Negara.

Dikatakannya, dari dahulu sering pula ada turis hippis lawan turis hippis, perkelahian di pub, bar, discotheque dan sejenisnya tetapi tidak terekspose.

Untuk jaman medsos ini kata Puspa Negara, memang mudah sekali hal-hal seperti itu muncul ke permukaan. Fenomena seperti itu terjadi juga di destinasi lain seperti di Thailand.

‘Ini disebabkan karena populasi mereka  cukup banyak, dan merupakan konsekuensi dari sebuah destinasi (destinasi kerakyatan). Kebanyakan dari bule bule  seperti itu tinggal di Kos kosan, sewa rumah, sewa apartement klas urban, dan lain-lain,’ ujarnyua.

Halaman
Reporter: Admin Bali
Editor: Admin Bali
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar